Caroline : Saya Lebih Diakui di Daerah Lain Daripada di Tanah Kelahiran

LUBUKLINGGAU – Caroline, nama satu ini sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Bumi Silampari.

Ada yang mengingat nama tersebut sebagai salah satu pengusaha gas elpiji, ada juga yang mengingatnya sebagai pemilik club bola voli PBV Caroline. Penilaian itu semua benar adanya, namun Caroline, lebih dikenal sebagai seorang penggemar olahraga voli dan memiliki wadah pembinaan atlet-atlet voli dibawah naungan PBV Caroline.

Tim Bola Voli Kontingen DKI Jakarta, Indoor Putra Putri, dan Bola Voli Pantai. (Ist)

 

Info terbaru, hasil wawancara dengan bintang informasi, Caroline dipercaya menjadi Manager Tim Bola Voli Kontingen DKI Jakarta untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) Oktober 2021 mendatang.

“Saya pengurus PBVSI DKI Jakarta, sekisaran dari tahun 2019,”kata Caroline membuka percakapan.

Bisa masuk kepengurusan disana, Caroline mengaku karena memiliki jaringan, selain itu sering mengirim atlet dan mencari bibit atlet dan memasukan atlet.

” Ya lebih faktor jaringan lah,”bebernya.

Caroline karib disapa Ulit ini menceritakan dirinya diberikan amanah menjadi Manager Tim Bola Voli Kontingen DKI Jakarta PON mendatang karena dianggap mampu oleh pengurus PBVSI DKI Jakarta. Tentu amanah ini ia jalani.

Di PON mendatang, PBVSI DKI Jakarta menargetkan voli indoor Putra/Putri meraih medali emas, sedangkan Voli Pantai targetnya meraih medali.

“Kita tergantung kesiapan tim, namun ya tetap targetnya meraih medali,”tegasnya.

Ditanyai mengapa tidak mengabdi di daerah sendiri, malah berkiprah di Ibukota Negara, Jakarta. Caroline menceritakan sebenarnya dirinya memiliki niat untuk mengabdi di daerah sendiri, hanya saja memang saat ini, daerah lain lebih mengakui dirinya.

“Ternyata kita lebih dihargai di negeri orang daripada di negeri sendiri,”ketusnya.

Meskipun begitu, dirinya masih menyimpan niat untuk membantu mengangkat prestasi daerah sendiri. “Mungkin belum sekarang, kalau niat,tentu pasti ada,”ujar Caroline yang memiliki sertifikat kepelatihan indoor dan pasir ini.

Perlu untuk diketahui, Caroline bukan kali ini saja menjadi manager Tim Bola Voli Kontingen DKI Jakarta, bahkan sudah beberapa kali, tetapi diberbagai event. Seperti pada ajang Popnas, Pomnas, dll. Dengan pengalaman ini, Caroline menilai ada perbedaan pembinaan atlet antara Jakarta dan Sumatera Selatan.

Diceritakannya, untuk di Sumsel, pembinaannya tidak dari usia dini, (bisa dihitung pakai jari) club-club yang membina dari usia dini (SD, SMP, SMA). Kebalikannya, jika di DKI Jakarta, pembinaan dari usia dini. Kemudian berjangka panjang serta profesional.

Caroline mencontohkan, ia memiliki anak binaan atlet voli pasir, dan masuk dalam peringkat Pra Pon, tapi tidak dikirimkan karena posisi yang boleh berangkat mesti berperingkat 1 hingga 14. Sedangkan anak didiknya di peringkat 16. Persoalannya, anak didik nya dibiarkan, padahal untuk urusan umur, bisa mengikuti PON 4 tahun selanjutnya.

“Umurnya masih muda, namun itu tadi pembinaannya terputus, nanti kalau mau dekat pon lagi, baru dicari lagi, tidak tahu nanti anak itu, apakah masih latihan, menikah atau pindah ke daerah lain, nah kalau di Jakarta, anak itu akan dibina bener,”jelasnya.

Meski waktu nya terbagi bagi, Lubuklinggau-Banten-Jakarta. Hal itu tidak menjadi penghalang. Karena dirinya memiliki tim kepelatihan yang kompak, sehingga dirinya masih bisa memonitor setiap kegiatan atlet atletnya.

“Tapi kayaknya, saya akan mulai merapat ke DKI Jakarta, awal September ini, kalau tidak salah kami akan berangkat ke Papua, 23 September, karena memang sudah ada pertandingan yang didahulukan sebelum pembukaan PON,”pungkasnya.(b14ck)