Sekretaris Koni Kesal “Mau Prestasi, Anggaran Tidak Ada, Omong Kosong”

*Bakal Turun ke Jalan Minta Sumbangan

LUBUKLINGGAU – Waktu Pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) dalam hitungan bulan saja, diperkirakan September 2021.

Namun, Koni Kota Lubuklinggau merasa risih, karena anggaran hingga saat ini belum ada kejelasan dari pemerintah kota.

Hingga, Sekretaris Koni Kota Lubuklinggau, Febri Habibi Asril bersuara tegas perihal ini. Menurutnya, kendala terjadi di Koni Lubuklinggau saat ini, dana sepeserpun dari pemerintah Kota Lubuklinggau belum turun. Baik dana operasional Koni, maupun seleksi atlet untuk persiapan mengikuti Porprov.

Padahal, lanjut Febri, Gubernur Sumatera Selatan H Herman Deru sudah mengeluarkan surat edaran untuk kepala daerah agar membantu Koni mempersiapkan diri mengikuti Porprov.

“Gubernur Sumatera Selatan belum mengeluarkan statemen porprov itu diundur atau tidak, malahan ada surat dari Gubernur kalau porprov tetap dilaksanakan,”tegas Febri.

KONI Lubuklinggau, belum memiliki dana sepeserpun masuk ke kas Koni. Padahal pengajuan dana sudah lama. Dari bulan Juli dan sekarang sudah bulan Agustus.

“Bukan masalah baru sebulannya, Koni Lubuklinggau dilantik dari Bulan Februari 2021,yang namanya tahun anggaran itu, dari awal tahun kan, nah sekarang bulan Agustus,” jelas Mantan Ketua DPC GMNI Lubuklinggau ini.

Dengan ketus, Febri menuturkan, alasan klasik dari pemerintah kota yakni perwal belum ada,tunggu perwal terlebih dahulu baru bisa diajukan. Namun ketika sudah diajukan hingga saat ini belum ada.

Dirinya merasa bingung, ketika pemerintah kota Lubuklinggau meminta prestasi sampai ranking tiga besar, namun dana sepeserpun tidak ada.

Tentunya dengan tidak memiliki anggaran, lanjut Febri, Koni dalam kondisi “tidur” tidak ada kegiatan sama sekali. Apalagi ada 33 cabang olahraga yang dipertandingkan di porprov nanti.

“Jadi kita mau kasih apa, bisa kemungkinan kita tidak mengikuti porprov, kalau anggaran tidak ada,”ketusnya.

Seharusnya dengan jarak waktu yang semakin dekat, persiapan sudah harus matang, dan semestinya tidak lagi membahas soal dana, tapi sudah membahas training center (TC).

Febri membandingkan anggaran Koni sebelum-sebelum nya, dimana anggaran cukup besar, Rp 3 sampai Rp 3,5 Milyar. Sedangkan saat ini pemkot memberi anggaran hanya Rp 600 juta.

“Janganlah jangan seperti itu, Koni ini tempat mencari prestasi, bukan tempat ajang politik, kita tidak mengajukan anggaran, pemkot sendiri yang memberikan anggaran Rp 600 juta,dan sepeserpun belum ada dananya,”bebernya.

Sehingga segala kegiatan koni saat ini, memakai uang pribadi. Jika situasi ini tidak berubah, dengan tegas Febri mengatakan kemungkinan bisa terjadi seperti di Koni Sumsel. Dimana mereka akan turun ke jalan meminta sumbangan kepada masyarakat. Apalagi seluruh cabor siap berkontribusi mengikuti Porprov di OKU Raya.

Ditanyai, apa tidak membuat malu?, dengan tegas Febri tidak memperdulikan hal itu.

“Malu urusan belakangan, yang penting kita ikut,”ketus Febri.

Ia meminta pemerintah kota mencari solusi, apalagi gubernur sudah mengeluarkan surat edaran untuk Kepala Daerah bahkan bersifat segera.

“Jadi tidak perlu dibesar-besarkanlah, mempertahankan prestasi, peringkat 5 lalu naik ke peringkat 3, nonsense lah (omong kosong, KBBI) ,”ungkap Febri kesal.

Terkait pernyataannya ini, Febri tidak merasa takut di pecat. Menurutnya yang bisa memberhentikan dia hanya pengurus cabang olahraga.

“Saya ini berasal dari atlet, ketua cabor, sekarang sekretaris Koni, olahraga itu tidak bisa dihitung cara politis, hitungannya matematika, berapa kalori dikeluarkan, seberapa besar juga asupan gizi yang masuk, barulah punya power dan bisa juara,”terangnya.

Menurutnya, Lubuklinggau tidak seperti Kabupaten Muba atau Kota Palembang yang memiliki Bank Atlet. Dimana Bank atlet itu, kapan dan dimanapun kegiatan/turnamen sudah bisa langsung turun. Sedangkan Lubuklinggau mesti melakukan seleksi terbuka terlebih dahulu.

“Kalau seleksi kan kita mengajak orang, dan mereka ini perlu dikasih minum, makan suplemen, belum peralatan cabornya,”kata Febri.

Saat ini, lanjut Febri, sudah banyak pengurus cabor yang mengajukan proposal, namun Koni tidak bisa membantu. Walaupun nantinya anggaran keluar. Tapi Koni tidak bisa berbicara tentang target. Menurut Febri, dengan anggaran Rp 600 juta, apa yang bisa ditargetkan.

“Rp 600 juta ini bukan hanya untuk kegiatan porprov, tapi untuk operasional para cabor, pra TC, Rp 600 juta dapat apa, ya paling nasi bungkus,dan itupun tidak bulat dananya,dipotong pajak juga,”ketus Febri lagi.(b14ck)