Siapa Paling Dominan Antara Caleg dan Nama Besar Parpol Dalam Meraih “Kursi”

POLITIK- Apakah nama besar Partai Politik (Parpol) memiliki peranan besar dalam meraih kursi di legislatif, atau faktor figur dari bakal calon legislatif.

Pertanyaan ini timbul, menindaklanjuti pemberitaan sebelumnya terkait kabar elit politik yang berencana pindah partai.

Pengamat Politik Eka Rahman menjelaskan dalam kontek pileg 2024, parpol dan figur bakal caleg sama urgentnya bagi potensi keterpilihan bakal caleg. Meski secara subjektif, Eka melihat figur bakal caleg lebih dominan di banding parpol.

Ia memiliki argumentasi yang melatari itu antara lain. Bahwa jika figur caleg tersebut branding-nya sudah ‘kuat’, dalam arti populer, mengakar, secara finansial juga kuat. Maka parpol bisa dikatakan hanya ‘ perahu’ untuk meraih tujuan, karena kontestan pileg secara undang-undang adalah parpol dan untuk menjadi legislator di DPR/D harus dari parpol (kecuali senator DPD).
Pada titik ini, di parpol manapun dia menjadi caleg, tidak mengganggu peluang keterpilihannya sebagai legislator.

Misalnya, Fauzih H Amro, berada di PBR, Hanura dan sekarang Nasdem, raihan suaranya secara significant tidak terpengaruh. Dia tetap menjaga peluang keterpilihan di parpol manapun.
Jikapun ada masalah kalkulasi, kalau bakal caleg tersebut ternyata targetnya tidak hanya menjadi legislator terpilih, tapi pimpinan DPRD. Maka dia harus menghitung betul di parpol mana yang berpeluang mendapat banyak ‘kursi legislatif’ dan internal kepengurusannya bukan sebagaimana parpol kader.

Misalnya, jika dia kader baru, meski terpilih sebagai legislator, jangan berharap akan direkomendasi sebagai pimpinan DPRD jika berada di parpol yang telah mapan seperti Golkar, PKS, PDIP. Karena ‘urut kancing’ dalam proses kaderisasi relatif kuat. Pada case seperti ini, figur bakal caleg lebih dominan dari parpol.

Namun, jika faktanya figur caleg itu ‘middle level’ terkait popularitas, kemampuan finansial maupun aksestabilitasnya di konstituen.

Misalnya, prediksi kemampuan raihan suaranya ada di 1000-1500 suara pemilih. Maka carilah parpol mapan yang bakal calegnya punya kekuatan merata untuk meraih suara, sehingga akumulasi beberapa bakal caleg ‘middle level’ ini akan besar dan meraih rangking suara dalam urutan antar parpol, tinggal strategi yang bersangkutan untuk secara internal menjadi peraih suara terbanyak dalam satu parpol.

 

Jika bakal caleg ‘middle level’ ini masuk kedalam parpol yang figur bakal calegnya tidak potensial, maka dia akan berjuang sendiri dan suaranya tidak masuk dalam rangking. Pada case ini, urgensi parpol lebih penting daripada figur bakal caleg.

Beberapa case pileg lalu ada strategi memasang bakal caleg ‘boneka’ untuk mendongrak suaranya pada parpol, dengan menanggung biaya administrasi pencalonan dan kampanye bagi bakal caleg lain.

“Saya berpikir ini strategi yang tidak efektif. Kalau yang bersangkutan kuat secara finansial, maka dongkrak saja tim dan strategi dia secara lebih luas dan lebih besar sesuai kemampuan finansial. Dibandingkan dia harus membiayai bakal caleg ‘boneka’,”terang Eka.

 

Ringkasnya, dalam pileg, ia melihat figur bakal caleg lebih dominan menentukan peluang keterpilihan seseorang si banding parpol. Kecuali jika ada ‘goal lain’ terkait kontestasi, maka pilihan pada parpol mana harus bergabung menjadi pertimbangan penting. (01)